PACARKU
SAHABATKU
Di sekolah saat istirahat tadi, Ana sangat suntuk banget. Pasalnya tadi sewaktu Ana berjalan di koridor, ia mendapati agung dan ima sedang ngobrol berdua. Wajah yang tadinya ceria, seketika berubah menjadi kusut. Seperti orang yang tidak mempunyai gairah hidup lagi. Membuat Liha teman dari semenjak TK-Nya itu bertanya–tanya, ada apa sebenarnya dengan Ana?
“Kok mukanya ditekuk gitu sih non, kenapa sih? kalau lagi ada masalah, ngomong dong, gue kan sohib elo. Gue siap dengerin elo ko”. Ucap Liha, tapi Ana hanya terdiam, untungnya itu tak lama setelah Liha membujuknya supaya cerita ke dia kalau lagi ada masalah. Ana akhirnya membuka mulutnya.
“Kenapa ya Ha, setiap gue lihat Agung sama Ima lagi ngobrol, gue ngerasa BT banget, kesel gictu deh”. Ujar Ana’. Mendengar jawaban sahabatnya itu, Liha hanya senyum-senyum tak memperdulikan pertanyaan Ana. Sampai akhirnya Ana memarahinya.
“Heh, kenapa sih elo Ha? Gue udah mau ngomong, eh... elo Cuma ketewa-ketawa aja. Menurut elo gue kenapa sih?’’. Kata Ana, dengan muka kesal’.
“Menurut gue, elo itu lagicemburu sama Agung, dan itu artinya, elo suka sama dia atau dengan kata lain elo cinta sama Agung”. Liha menceramahi Ana’. Mendengar jawaban Liha tadi, Ana mengernyitkan keningnya. Dan tak percaya dengan kesimpulan sohibnya itu. Ga mungkin Ana jatuh cinta sama Agung, dia jugakan sohib Ana.
“Ga mungkin Ha, dia jugakan sohib gue, gak mungkinlah gue suka atau cinta sama dia”. Ana menyangkalnya.
“Lebih baik elo katakan saja semuanya sama Agung. Kalau elo cinta sama dia. Siapa tau dia juga cinta sama elo”. Ujar Liha’. Kali ini saran dari Liha sahabatnya itu tidak bisa diterima Ana. Dia marah. Dan ga mau lagi ngomong sama Liha. Sampai Liha kebingungan, bagaimana caranya supaya dia bisa baikan lagi sama Ana.
Untungnya Agung bisa membuat mereka baikan lagi.
Siang itu di depan laboratorium Agung marah pada Ana, laki-laki yang amat dicintainya membentak dia. Kenapa Agung seperti ini, itu karena Agung mencemaskan Ana. Mamanya kemarin menelepon kerumahnya. Katanya Ana ga ada di rumah dalam arti lain, Ana kabur setelah ia tau kalau mamanya akan menikah lagi dengan om Herman. Ana ga mau punya ayah tiri. Ia sangat mencintai almarhum ayahnya.
“Kenapa sih lo selalu bikin masalah. Apa lo ga sayang sama mama lo? Asal lo tau ya gue juga khawatir bener ama lo”. Tanya Agung dengan tegas’. Namun Ana hanya diam mendengarkan pertanyaan agung tadi.
“Elo ga tau mama lo nangis semalaman. Dia minta gue nyari lo tapi gue ga nemuin lo dimanapun. Bahkan di rumah Liha. Seharian itu lo kemana aja sih?” Lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Agung tak membuat Ana membuka mulutnya.
Melihat tingkah Ana itu membuat Agung kesal dan tambah emosi.
“Kenapa elo diem aja, jawab An, jawab!” Ucap Agung setengah berteriak’. Membuat Ana dan teman-teman yang lainya kaget. Selama ini Agung dikenal sebagai anak yang pendiam. Dan ga pernah marah sampai segitunya. Kecuali kalau dia sedang emosi.
“Kenapa sih elo repot-repot ngurusin gue, bukannya elo sibuk pacaran ama Ima? Selama ini ga ada yang ngerti perasaan gue. Gue kaya gini gara-gara elo. Gara-gara mama. Gue ngerasa ga ada yang peduli ma gue, kenapa sih gue harus dilahirin ke dunia ini? Gue ga minta dilahirin. Dan gue juga ga minta perhatian dari elo. Lo tau itu!”, ‘Ana membalasnya dengan setengah berteriak’. Agung tak menghentikan langkah Ana yang terus berlalu dari hadapannya dengan berurai air mata. Agung berteriak memanggil Ana berulang-ulang tapi Ana tak sedikitpun menoleh ke belakang bahkan mengkentikan langkahnya. Kejadian itu membuat ana semakin murung dan ga mau bicara pada siapapun. Kecuali pada Riki sahabat barunya yang kini selalu ada disampingnya. Saat inipun Ana tinggal di rumahnya.
Hanya pada Riki Ana mau bercerita. Sampai pada suatu saat Riki tak sengaja membaca diary Ana, di situ tercatat nama Agung dan hanya dia. Ternyata, Ana sangat mencintai Agung. Mulai dari pertama kali Ana melihatnya, tapi Ana selalu menutupinya apabila ada orang yang bilang bahwa Ana itu cinta sama Agung, bahkan pada Liha. Sebenarnya Riki juga menaruh hati pada Ana tapi Ana tak tau, bahkan setiap apa yang di lakukan Riki untuk Ana dimatanya itu hanya bantuan dari seorang sahabat.
Tiga hari berturut-berturut Ana tidak masuk sekolah. Tidak ada keterangannya pula. Hal itu membuat Agung dan Liha heran, kenapa Ana tidak masuk sekolah sampai tiga hari lamanya. Sampai suatu saat anak kelas X memberi tahu Liha kalau Ana ada bersama Riki. Kabar itupun disampaikan Liha pada Agung.
“Hai Gung, cause of your Ana?” tebaknya. tapi Agung hanya menggelengkan kepala.
“Elo mau tau ga, dia sekarang ada dimana?” tawar Liha.
“Emang dia ada dimana?” tanya Agung pada Liha.
“Sekarang dia lagi ada di rumah Riki ketua OSIS itu loh”. Jawab Liha. Mendengar jawaban Liha tadi, Agung langsung mengambil kunci motor dan tasnya, lalu berlari keluar kelas.
“Gung lo mau kemana?”. ‘Tanya Liha berteriak’.
“Gue mau nyusul Ana”. ‘Jawab Agung’.
“Gue ikut ya ”. ‘Pinta Liha’.
“Ga usah, mendingan elo di sini aja. Kasih tau ke Pak Darmo kalau gue mau nyusul Ana, izinin gue ya Ha!” kata Agung sambil berteriak. Karena jarak mereka berjauhan.
Sampai di rumah Riki ternyata mereka ga ada kata pembantunya, mereka sedang pergi ke pantai. Agung pun berangkat ke pantai untuk menemui Ana.
Agung mendapati Ana sedang merenung di tepi pantai, sendirian! Kemanakah Riki pergi? Ko Ana sendirian. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak Agung, itu Riki.
“Samperin dia Gung, dia butuh elo”. Riki menyarankan.
“Kenapa dia butuh gue, kan udah ada elo”. Tanya Agung keheranan.
“Karena... karena...”. Riki gugup mengatakannya. Apakah baik jika ia mengatakan semuanya pada Agung? Tapi bagaimanapun juga dia orang yang sangat Ana. Pikirnya dalam hati.
‘’Elo mau ngomong apa sih Ki?” tanya Agung tak mengerti.
“Ana cinta sama elo”. Ucap Riki. Kata-kata Riki tadi sangat mengagetkan dan Agung hampir tak percaya.
“Elo tau dari mana?”tanya Agung penasaran lalu Riki memberikan buku Diary kepunyaan Ana. Agung membacanya sebentar. Lalu ia menghampiri Ana yang sedang kebingungan di pinggir laut.
Deru ombak yang kian kemari mengiring pembicaraan mereka.
“Aku ke sini mau jemput kamu pulang”. Suara itu membangunkan Ana dari lamunannya sepertinya suara itu sudah tak asing lagi di telinga Ana.
“Agung...!” tiba–tiba nama itu terlontar dari mulutnya. Ketika Ana membalikan badannya, ada senyum manis dieajah orang yang sangat di cintainya.
Agung menghampiri Ana dan Ana hanya membiarkan sang pangerannya duduk di sampingnya.
“Udah lama kamu disini?” tanya Agung. Ana tidak bicara, ia hanya mengangguk saja.
“Kamu ikut aku pulang ya, mamah kamu sakit di rumah. Dia ga jadi nikah sama om Herman ko. Dia akan setia pada almarhum ayahmu. Pulang ya!” Agung terus membujuk supaya Ana bisa ikut pulang bersamanya.
“Kenapa kamu kesini, ngapain kamu repot-repot ngurusin aku, bukannya kamu gak peduli sama aku? Udah deh, pacaran aja sana sama Ima. Ga usah mikirin perasaan aku”. Agung berhasil mengeluarkan unek-unek Ana. Ia tau kalau Ana cinta padanya dan Agung pun sama. Tapi Ana selalu saja tidak mengerti dengan perasaannya. Hingga akhirnya Agung pacaran dengan Ima. Walaupun Agung tidak mencintai Ima.
“Lho, ko kamu ngomongnya gitu sih, emang perasaan kamu kenapa?
Agung terus aja memancing penjelasan dari Ana. Ia membuat gerakan untuk bersiap-siap mendengarkan perasaan Ana yang sesungguhnya.
“Kamu ga ngerti, dan ga akan pernah ngerti. Sampai suatu saat, kamu tau perasaanku yang sesungguhnya. Baik aku katakan sendiri, atau kamu dengar dari orang lain, bahwa aku...”. Belum selesai Ana bicara, Agung langsung memotong pembicaraannya.
“Bahwa kamu, cinta sama aku”. Ana terbelalak dan hampir tak percaya. Agung tau, kalau ia mencintainya.
“Aku tau semuanya dari Riki, dari diary kamu, aku juga merasakan hal yang sama padamu. Tapi kamu, selalu tak mengerti bahkan kamu menjodohkan aku dengan Ima. Aku ga ngerti apa yang ada dipikiranmu. Kamu mencintai aku, tapi kamu malah memberikan aku pada orang lain apa mau kamu sebenarnya? Jawab An, aku ingin sekali mendengar semuanya dari kamu”. Ucap Agung
“Ya, emang aku cinta, aku sayang sama kamu tapi aku ga mau nyakitin hati Ima yang dari dulu cinta banget sama kamu. Aku ga mau dicap sebagai cewe yang suka merebut cowo orang. Aku gak mau Gung”.Ana menjawab kata-kata Agung dengan mata yang berkaca-kaca.
Ana tidak dapat lagi menahan air matanya. Sedikit demi sedikit air mata itu jatuh dari matanya, isak tangis Ana pun mulai dirasakan Agung. Tangan Agung merayap ke wajahnya lalu menghapus air mata yang jatuh, dan berkata.
“Maafin aku, aku ga bermaksud...”
“Udahlah Gung, itu semua emang salah aku. Kenapa ga dari dulu aja aku lupain kamu. Aku mohon sekarang, kamu juga lupain aku”. Ana menurunkan lengan Agung dan ia hendak pergi. Lagi-lagi Agung tak menghentikan langkah Ana tapi tiba-tiba didepan Ana berdiri sesosok wanita bertubuh mungil, dan berambut pendek, menghentikan langkahnya. Ternyata dia Ima.
“Gue udah tau semuanya, kenapa sih elo ga bilang terus terang dari dulu ke gue, kalo elo itu sayang sama Agung. Kenapa elo mesti nutupinnya dari kita semua. Gue gak suka dibo’ongin Na, lo tau itu!” tutur Ima menggertak.
Nada tinggi Ima sangat membekas di telinga Ana. Ia tau, Ima tak sungguh-sungguh berkata seperti itu. Dia tau kalo Ima sangat mencintai Agung, dan gak mungkin untuk memberikannya pada Ana. Sementara Ima dan Ana sedang bicara serius, agung berjalan ke tengah laut. Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai tenggelam oleh air laut.
“Agung, elo jangan konyol!” teriak Liha yang saat itu ada di sebuah Cafe tepi pantai bersama Riki. Ima dan Ana yang kahet mendengar teriakan Liha, segera melihat ke arah Agung sambil berlari kencang. Semua tubuh Agung sudah tenggelam dalam air laut. Dan ketika kepalanya mulai tenggelam, tangan Ana segera bertindak dan menarik Agung ke tepi pantai dan saat itu pula, tangan Ana melayang ke muka Agung, dan... plaaakkk!!! Suara itu membuat semuanya kaget dan hampir tak percaya.
“Kenapa kamu lakukan ini Gung, kenapa? Setahun yang lalu kamu membuat Mela teman sekelas kita sadar, bahwa bunuh diri itu sangat membahayakan. Tapi kenapa, sekarang kamu malah mau berbuat hal sekonyol itu? Aku ga akan maafin kamu. Catet itu Gung”. Hatinya geram dan juga sangat panik. Untung saja Agung segera ia tarik ke darat.
“Seandainya aku hidup juag untuk apa, paling aku akan sakit hati ngeliat kamu bersama cowo lain. Dan jika aku mati, aku akan tenang membawa cintaku dan cintamu terkubur dalam”.
“Bunuh diri bukan segalanya. Mungkin kamu akan tenang dan ga harus mikir apa-apa lagi. Tapi aku! Kamu tega membuat aku gila? Kamu tega ninggalin aku sendiri? Kamu terlalu berarti buat ku Gung. Aku gak mau, ditinggalin sama kamu”.
Tangis Ana pecah dalam pelukan agung ia sadar, kalo hidup tanpa cinta Agung itu sangat menyedihkan. Cinta Agung dimata Ana itu segalanya. Ia ga mungkin senang, hidup tanpa cinta Agung.
THE END
Senin, 24 November 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar